Selasa, 20 November 2012

Perkembangan Hotel di Padang dan Sumatera Barat (Pasca Gempa)

Dunia perho­telan di Kota Padang sempat tiarap karena dahsyatnya gempa 30 September 2009. Sebagian besar hotel-hotel berbintang rusak. Ada yang rusak ringan, rusak berat dan bahkan ada yang roboh, rata dengan tanah. Termasuk hotel-hotel kelas melati. Tapi kini, mayoritas hotel-hotel itu telah beroperasi kembali. Juga ada beberapa hotel baru yang muncul, baik yang telah ber­operasi atau pun yang masih dalam tahap pembangunan.

Hal tersebut sebagai per­tanda dunia perhotelan di Kota Padang dan Sumatera Barat (Sumbar) umumnya telah bangkit kembali. Ten­tunya juga seiring dengan bangkitnya kembali dunia pariwisata Ranah Minang. Sumbar memang telah dikenal sebagai salah satu daerah tujuan pariwisata nasional, bahkan dunia.

Alamnya yang indah, yang terdiri dari pergunungan, bukit-bukit, lembah, danau, air terjun, pantai, hutan yang masih perawan, budaya dan kehiduapan yang khas hingga hal-hal lain yang menjadi daya tarik tersendiri pada para wisatawan lokal dan manca negara. Objek-objek wisata tersebut tersebar hampir di semua daerah di Sumbar, mulai dari barat hingga timur dan dari utara hingga selatan.

Objek wisata tersebut tersebar tepatnya di Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kota Payakumbuh, Kab. Lima­puluh Kota, Kota Padang Panjang, Kab. Tanah Datar, Kota Pariaman, Kab. Padang Pariaman, Kota Padang, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kab. Pesisir Selatan, hingga Kab. Kepulauan Mentawai. Tingginya angka kunjungan pariwisata juga sebanding dengan tingkat hunian hotel. Meningkatnya kegiatan inves­tasi di sektor perkebunan, pertambangan, jasa dan perda­gangan  di daerah ini juga menjadi peluang bagi dunia perhotelan untuk terus tum­buh dan berkembang.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, tingkat penghunian kamar (TPK) di Sumbar pe­riode bulan September 2012 mencapai rata-rata 44,06 persen. Hal ini mengalami peningkatan sebesar 1,38 poin dibanding TPK bulan Agustus sebesar 42,68 persen. Untuk kota Padang, TPK berada di posisi kedua yakni sebesar 59,74 persen setelah Ka­bupaten Solok Selatan dengan TPK 70,51 persen.

Sektor perekonomian di triwulan III 2012 yang tumbuh hingga 6,8 persen ini juga didorong oleh pertumbuhan sektor perdagangan hotel dan restoran 9,67 persen, yang berada di peringkat kedua setelah pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,05 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), jumlah kamar hotel di Sumbar pasca gempa me­ning­kat dari 2.500 hingga 4.000 kamar. Ketua PHRI Sumbar Maulana Yusran, mengatakan pertumbuhan hotel di Kota Padang yang cukup pesat merupakan hal yang sangat bagus bagi kema­juan pariwisata di Sumbar. Pertumbuhan perhotelan di Sumbar sudah siap untuk mendukung perkembangan pariwisata di daerah ini. Pemerintah mesti melakukan pembenahan-pembenahan terhadap objek wisata, sehingga wisatawan makin banyak yang datang. Sehingga dengan itu kamar-kamar hotel yang bertambah dapat terjual.

“Pertumbuhan jumlah kamar hotel ini harus diimbangi dengan peningkatan jumlah kunjungan. Akan menjadi hal yang percuma ketika jumlah kamar banyak tetapi tingkat kunjungan sedikit. Butuh perhatian pemerintah untuk perbaikan infrastruktur pariwisata yang ada di Sumbar. Objek-objek wisata yang menarik harus dilakukan pembenahan,” begitu jelasnya

Ditambahkannya mengenai akses pintu masuk ke Sumbar juga harus lebih dikembangkan, hal ini terkait dengan bertambahnya jumlah maskapai yang ada di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) serta rute penerbangan baru seperti yang diluncurkan oleh Mandala dengan rute Padang-Singapura (1/11) lalu. Ia juga mengatakan bahwa mengadakan iven-iven nasional maupun international juga akan sangat baik untuk menunjang industri perhotelan yang ada di Sumbar.

sumber: harianhaluan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar